Login
| Teknologi Informasi sebagai Tools |
|
|
|
| Written by budiarto |
| Saturday, 07 November 2009 13:41 |
|
Cara pandang Teknologi Informasi (TI) sebagai bentuk produk unggulan, semakin terasa menjadi bumerang. Sebuah contoh riil tentang hal ini adalah, dalam sebuah instansi memandang perlu adanya fasilitas hotspot seperti dimiliki oleh instansi-instansi lain, cara pandang bahwa hotspot adalah sebagai produk TI, sungguh akan berdampak besar dan sangat terasa bagi IT Developer-nya. Pengembang TI justru terbebani hanya oleh urusan bagaimana mengajari cara pemakaian hotspot, membuat rule tentang penggunaan hotspot, menyiapkan titik-titik access point sesuai permintaan dari masing-masing unit. Cara pandang keliru ini, tidak akan membuat IT kita menjadi maju, yang kita lakukan hanyalah mengejar ketinggalan, dan seperti hanya memperkaya peralatan saja. Bisa kita lihat, berapa instansi yang memiliki perangkat TI ber milyar-milyar rupiah, namun tak dapat dirasakan dampak TI -nya bagi siapapun? IT sebagai alat bantu… maksudnya ? Solusikah ? Memandang TI sebagai alat bantu, sebagai gambaran adalah, saat kita punya laptop dan bingung untuk akses internet, maka kita akan berkata, andaikan disini ada hotspot. Cara pandang inilah yang harus dipakai sebagai acuan pengembangan TI, apa ga sama dengan yang di atas ? tentu saja tidak. Jika adanya hotspot dikarenakan kebutuhan yang jelas-jelas ada, maka pengembang TI cukup dengan membangun fasilitas hotspot, untuk penggunaan, dapat dipastikan user sudah pasti tahu aturan mainnya. Akan jauh lebih bermanfaat apabila IT Developer dibebani tanggung jawab pada menggali ide pengembangan TI, bukan pada pelatihan komputer bagi pemula. Dan dampak dari adanya cara pandang TI sebagai tools, akan muncul banyak komunitas dari user yang mendukung peningkatan it-nya, termasuk perawatan. Tim pengembang TI tidak perlu bingung untuk membuat schedule pemantauan, mana titik hotspot yang mati, karena jika user benar-benar memandang hotspot sebagai kebutuhan, maka mereka yang akan berusaha menyampaikan itu ke pengembang TI. Maka cara pandang TI sebagai tools akan memunculkan IT culture, dimana budaya it ini, akan membuat orang malu jika tidak tahu cara menggunakan hotspot. Sebagai contoh riil pengembangan IT yang cukup berhasil di Indonesia adalah IT di bidang komunikasi telepone seluler. Bagaimana bisa disebut cukup berhasil. Tukang jual sayur-pun akan merasa malu jika tidak mengerti tentang kirim sms, misscall, hasilnya teknologi apapun yang berkaitan dengan handphone, maka akan demikian mudah diterima, dan dengan mudah pula ide cemerlang muncul dari perangkat ini. SMS gateway yang dimanfaatkan untuk sms pooling, sms informasi. Mobile banking, bahkan di kampus mulai muncul mobile campus. Cara pandang TI sebagai alat bantu, dimana kebutuhan akan pengembangan IT adalah digali dari pengguna, bukan karena apa yang kita mau, akan sangat berharga bagi pengembangan TI bangsa ini. Jika berkaca pada kalimat tersebut, bukankah hingga saat ini masih banyak orang yang tersesat di jalan, bahkan penduduk daerah setempat-pun kadang kebingunan dimana kantor kecamatannya ? banyak sekali informasi yang tidak sampai pada sasaran karena tidak ada teknologi yang mendukungnya. Ayo kita majukan TI negeri ini berbasis pada kebutuhan. |


